KEBUN TUA KAKEK LAO DAN KAKEK JIO


Kakek Tua Lao memiliki kebun sayuran yang luas di desa Vegie, setiapa hari ia selalu megurus kebunnya dengan hati gembira, setiap ia menyirami tanamamnya ia kan selalu bernyanyi lagu Pengembala Gembira ajaibnya tanamnya selalu tumbuh subur menghasilkan buah dan sayur yang besar dan segar. Mendengar kabar jika kakek tua Lao adalah petani yang sukses, pak Tua Jio menjadi sangat iri, padahal tanaman yang ia hasilkan juga memiliki kualitas yang sama baiknya dengan tanaman kebun Pak Tua Lao. Suatu hari pembesar negeri seberang ingin mengadakan pemilihan untuk mencari pemasok di negerinya, ia membuat “Perlombaan Kebun Terbaik”. Berita tentang adanya perlombaan tersebut membuat para pemilik kebun gembira, Kakek Tua Lao didesak oleh putra, putri dan cucunya untuk mendaftarkan kebun mereka dalam perlombaan tersebut agar kebun keluarga mereka hasilnya dapat dinikmati oleh orang-orang dinegeri seberang, awalnya kakek Tua Lao menolak karena ia hanya ingin kebun keluarganya dapat dinikmati oleh orang-orang tersayangnya dan orang-orang yang membutuhkan di desanya saja. Mendengar kakek Tua Lao akan mendaftarkan ikut pemilihan kakek tua Jio pun merasa tidak tenang dan gelisah, ia memikirkan berbagai macam cara agar dapat terpilih dan mengalahkan kebun milik Ketua Lao yang smenurutnya akan menang. Pada Hari perlombaan semua peserta yang mengikuti pemilihan kebun terbaik pun mempersiapkan hasil panen terbaik kebun mereka untuk dinilai oleh para dewan juri, dalam perlombaan ini kakek Tua Lao mempersiapkan buah melon, timun dan bunga mawar putih dari kebunnya. Sedangkan kakek Tua Jio mempersipkan buah naga, lobak dan bunga mawar merah dan pink.

Pada hari perlombaan para peserta lomba “Kebun Terbaik” sangat tegang, siapa yang akan dipilih dari berbagai macam kebun petani yang akan mendapatkan hadiah besar itu, kabarnya sang pembesar negeri itu akan menmberikan emas dan permata selain menjadi pemasok sayur untuk negerinya. Para dewan juri yang terdiri dari koki, walikota, ahli kebun dan pembesar memberikan pendapatnya. Mereka mengumunkan hasil kebun dari Kakek Tua Jio, para dewan juri sangat kagum dari cara Kakek Tua Jio berkebum dari hasil buah naga, lobak dan bunga mawar merah dan pink dari kebunnya. Setelah dua peserta lainnya dewan juri mengumunkan tentang hasil panen kebun Kakek Tua Lao, mereka terkejut  saat tahu kakek Tua lao menyiapkan ketimun namun para dewan juri dibuat kebingungan dengan rasanya, mereka sangat senag dengan rasa buah dan sayuran dari kebun Kakek Tua Lao mereka juga menanyakan tentang cara Kakek Tua Lao merawat kebun keluarga miliknya. Setelah semua peserta dinilai akhirnya waktu pengumuman tiba Juara pertama yang sagat diingikan oleh Kakek Tua Jio didapat oleh Kebun seorang pemuda dari desa seberang, dewan juri mengatakan walau masih muda semangat pemuda itu dalam merawat kebunnya sagatlah hebat karena sayur dan buah yang dihasilkan begitu berbeda dari kebanyakan petani. Sedangkan kake Tua Jio walau sangat kecewa kebunnya tidak terpilih sebagi jura namun dia sangat senang karena dengan mengikuti lomba ini anaknya yang bekerja di negeri sebrang datang untuk menyaksikan perlombaan dan akhirnya ingin kembali ke kebum keluarga mereka belajar menjadi petani, sedangkan Kakek Tua Lao walaupun tidak menjadi juara sama seperti Kakek Tua Jio namun kakek Tua lao mendapatkan kehormatan untuk memasok sayuran dan buah yang ia tanam kepada pemesar negeri seberang agar keluarganya bisa menikmati hasil kebun Kakek Tua Lao yang sangat membuat pembesar itu sagat senang saat mencicipinya. Kakek Tua Jio pun mmeberikan selamat kepada Kakek Tua Lao yang ternyata keduanya adalah sahabat, Kakek Tua Lao mengundang keluarga Kakek Tua Jio untuk makan bersama keluarga mereka. Di ruang makan besar Kakek Tua Lao banyak makanan terhidangkan menantu kakek sangat hebat dalam berbagai masakan jadi tak heran jika rasa makannya enak walau dari sayuran atau bhakan buah apapun, Kakek Tua Jio juga sangat gembira dia bisa menikmati makanan lezat dengan putranya serta keluarga sahabatnya setelah perlombaan “Kebun Terbaik”.

Komentar